Analis senior Monex Investindo Futures Albertus Christian mengatakan, awal pekan ini, kemungkinan besar pasar merespons hasil Non Farm Payrolls AS akhir pekan lalu. Jika terdapat laporan tenaga kerja AS yang solid, akan mendorong tapering The Fed yang lebih agresif dibandingkan estimasi sebelumnya.
Kondisi itu akan berdampak pada penguatan dolar AS sekaligus jadi tekanan negatif bagi rupiah. "Tapi sebaliknya, jika data non-farm payrolls lebih buruk dibandingkan estimasi dolar AS bisa mengalami koreksi,
Kenyataannya, data Non Farm Payrolls AS yang dirilis 10 Januari 2014 itu hanya bertambah 74 ribu pada Desember 2013 dari 241 ribu pada bulan sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang terendah sejak Januari 2011. "Karena itu, pelemahan rupiah berpeluang terbatas dalam kisaran 12.110 hingga 12.235 per dolar AS,
Padahal, kata dia, sejauh ini para investor sudah mengantisipasi hasil data tenaga kerja AS yang cukup sehat seiring penguatan dolar AS akhir pekan lalu terhadap euro, frank Swiss, dan juga terhadap mata uang lainnya. "Karena data non farm payrolls lebih rendah, Senin ini peluang pelemahan rupiah menjadi terbatas,
Apalagi, dia menegaskan, pasar masih diselimuti sentimen kenaikan cadangan devisa dan keyakinan kembalinya capital outflow menjadi capital inflow.
Dari AS, awal pekan ini akan dirilis data retail sales dan inflasi. Sebab, parameter inflasi masih menjadi satu-satunya angka yang masih belum sesuai dengan keinginan The Fed untuk melakukan tapering lebih lanjut. "Meski begitu, awal pekan ini masih relatif minim data,
Tapi, rupiah sulit mendarat ke teritori positif karena China juga tampak mengalami penurunan arus pinjaman ke sektor korporasi sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang seiring kecemasan perlambatan ekonomi China.
Di sisi lain, keputusan BI rate di level 7,5% pekan lalu diiringi oleh pernyataan BI mengenai data inflasi yang mulai stabil dan terdapat perbaikan subtansial pada surplus neraca perdagangan juga jadi sentimen positif.
Perkembangan ini juga memicu sentimen positif dari dalam negeri, karena keyakinan pelaku pasar juga membaik atas perbaikan data lebih lanjut seperti inflasi dan surplus neraca perdagangan. "Berikutnya justru akan ada ekspektasi pemangkasan BI rate jika tekanan inflasi sudah mereda dan defisit mulai membaik,
Asal tahu saja, kurs rupiah terhadap dolar AS
